(0362) 21985
organisasisetda@bulelengkab.go.id
Bagian Organisasi

Makna Siwaratri dalam Kehidupan Masa Kini

Admin organisasisetda | 17 Januari 2026 | 167 kali

Siwaratri merupakan salah satu hari suci penting dalam ajaran Hindu yang diperingati sebagai malam perenungan, pengendalian diri, dan penyucian batin. Secara etimologis, Siwa berarti kesadaran tertinggi atau pelebur kegelapan, sedangkan Ratri berarti malam. Dengan demikian, Siwaratri dimaknai sebagai malam untuk menghalau kegelapan batin—kebodohan, keserakahan, amarah, dan ego—menuju cahaya kesadaran dan kebijaksanaan. Namun, di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, makna Siwaratri kerap dipersempit sebatas ritual berjaga, puasa, dan sembahyang. Padahal, esensi Siwaratri justru semakin relevan untuk direnungkan dalam konteks masa kini.

Dalam kehidupan modern, manusia dihadapkan pada berbagai bentuk “kegelapan” baru. Bukan lagi sekadar kegelapan fisik, melainkan kegelapan batin yang muncul dari tekanan hidup, ambisi berlebihan, kecanduan teknologi, krisis moral, hingga keterasingan sosial. Media sosial, misalnya, sering kali memicu perbandingan hidup yang tidak sehat, rasa iri, kecemasan, dan kehilangan makna. Di sinilah Siwaratri menemukan relevansinya: sebagai momentum jeda spiritual untuk kembali menengok ke dalam diri, menilai ulang arah hidup, serta menyadari keterbatasan sebagai manusia.

Makna berjaga (jagra) dalam Siwaratri tidak semata-mata berarti menahan kantuk sepanjang malam, tetapi simbol kesadaran penuh terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan. Dalam konteks masa kini, berjaga dapat dimaknai sebagai upaya sadar untuk tidak “tertidur” dalam rutinitas yang kosong makna. Seseorang bisa saja terjaga secara fisik, namun batinnya lalai—menjalani hidup tanpa refleksi, tanpa empati, dan tanpa nilai. Siwaratri mengajarkan pentingnya awas diri, agar manusia tidak terperangkap dalam kehidupan yang sekadar berjalan, tetapi tidak berkembang secara spiritual.

Puasa (upawasa) yang dilakukan saat Siwaratri juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Dalam kehidupan modern yang sarat dengan budaya konsumtif, puasa menjadi simbol perlawanan terhadap keinginan yang tak terkendali. Menahan diri dari makanan hanyalah satu bentuk, namun yang lebih penting adalah puasa dari amarah, puasa dari ujaran kebencian, puasa dari keserakahan, dan puasa dari perilaku yang merugikan orang lain. Inilah bentuk puasa yang justru paling berat, namun paling bermakna dalam kehidupan sosial saat ini.

Sementara itu, monabrata atau pengendalian ucapan mengajarkan kebijaksanaan dalam berbicara. Di era digital, kata-kata menyebar dengan cepat dan dampaknya bisa jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Komentar kasar, hoaks, dan ujaran kebencian menjadi bagian dari keseharian yang sering dianggap biasa. Siwaratri mengingatkan bahwa diam tidak selalu berarti lemah, melainkan bisa menjadi wujud kebijaksanaan. Menyaring kata sebelum diucapkan atau dituliskan adalah praktik spiritual yang sangat relevan di masa kini.

Lebih jauh, Siwaratri juga mengajarkan nilai pertobatan dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dalam kisah Lubdhaka, tokoh yang sering dikaitkan dengan Siwaratri, digambarkan bahwa kesadaran, meskipun lahir dari keterpaksaan dan ketidaksengajaan, tetap memiliki nilai jika disertai penyesalan dan perubahan sikap. Ini memberi pesan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, tanpa memandang latar belakang atau masa lalu. Dalam kehidupan modern yang kerap memberi label dan stigma, ajaran ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah tertutup dari jalan perubahan.

Dalam konteks sosial dan profesional, termasuk dalam birokrasi dan dunia kerja, makna Siwaratri dapat diwujudkan melalui integritas, tanggung jawab, dan pelayanan yang tulus. Pengendalian ego, kejujuran dalam tugas, serta kesadaran akan dampak keputusan terhadap orang lain merupakan implementasi nilai-nilai Siwaratri dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, Siwaratri tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi etika hidup yang membentuk karakter individu dan kolektif.

Pada akhirnya, makna Siwaratri dalam masa kini adalah ajakan untuk kembali menjadi manusia yang sadar—sadar akan dirinya, sadar akan sesamanya, dan sadar akan hubungannya dengan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Siwaratri hadir sebagai ruang sunyi untuk menemukan kembali makna hidup yang hakiki. Bukan tentang seberapa lama kita berjaga di malam hari, melainkan seberapa dalam kita mampu terjaga dalam menjalani kehidupan. Jika nilai-nilai Siwaratri benar-benar dihayati, maka kegelapan batin tidak hanya sirna semalam, tetapi perlahan diterangi dalam setiap langkah kehidupa