(0362) 21985
organisasisetda@bulelengkab.go.id
Bagian Organisasi

Akhir Era di Layar Kaca Indonesia: Doraemon Tidak Lagi Tayang di RCTI, Netizen Heboh

Admin organisasisetda | 02 Januari 2026 | 1277 kali

Hilangnya serial Doraemon dari layar televisi RCTI belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet menyadari bahwa anime legendaris tersebut tidak lagi muncul dalam jadwal siaran, khususnya pada slot akhir pekan yang selama puluhan tahun identik dengan kehadiran Doraemon dan kawan-kawan. Tanpa pengumuman resmi, absennya tayangan ini justru memantik gelombang nostalgia, kesedihan, dan diskusi panjang tentang perubahan dunia penyiaran di Indonesia.
Bagi banyak orang Indonesia, Doraemon bukan sekadar tontonan anak-anak. Ia adalah bagian dari memori kolektif lintas generasi. Sejak pertama kali tayang di televisi nasional pada era 1990-an, serial ini menjadi teman setia Minggu pagi, mengisi ruang keluarga dengan tawa, kehangatan, dan pesan-pesan sederhana tentang persahabatan, kejujuran, serta tanggung jawab. Nobita yang ceroboh, Doraemon dengan kantong ajaibnya, Shizuka yang lembut, Giant yang keras namun setia, dan Suneo yang usil telah tumbuh bersama penontonnya.
Karena itulah, ketika Doraemon tidak lagi tayang di RCTI, reaksi publik muncul begitu kuat. Media sosial dipenuhi unggahan bernada kehilangan, mulai dari tangkapan layar jadwal acara yang sudah tak lagi memuat nama Doraemon, hingga kenangan pribadi tentang masa kecil yang selalu ditemani suara khas robot kucing biru dari abad ke-22. Tidak sedikit pula yang mengaitkan hilangnya tayangan ini dengan perasaan “resmi dewasa”, seolah satu fase kehidupan ikut berpamitan.
Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak RCTI terkait alasan dihentikannya penayangan Doraemon. Namun, berbagai spekulasi muncul di ruang publik. Mulai dari berakhirnya kontrak hak siar, perubahan strategi program televisi, hingga menurunnya minat menonton televisi konvensional akibat pergeseran ke platform digital dan layanan streaming. Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan gawai dibanding televisi, stasiun TV memang dihadapkan pada tantangan besar untuk menyesuaikan konten dengan kebiasaan audiens yang terus berubah.
Fenomena ini sesungguhnya mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam dunia media. Televisi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber hiburan utama keluarga. Konten kini bersaing dengan algoritma, aplikasi, dan tayangan on demand yang bisa diakses kapan saja. Dalam konteks ini, hilangnya Doraemon dari satu stasiun televisi bukan berarti akhir dari kisahnya, melainkan tanda pergeseran medium dan cara menikmati cerita.
Meski tidak lagi tayang di RCTI, Doraemon sebagai waralaba masih terus hidup. Serial dan filmnya tetap diproduksi di Jepang dan tersedia di berbagai platform digital. Namun, bagi penonton Indonesia, menonton Doraemon di televisi nasional memiliki makna tersendiri. Ada unsur kebersamaan yang sulit tergantikan—menunggu jam tayang, menonton bersama keluarga, dan merasakan pengalaman yang sama secara serentak dengan jutaan penonton lain.
Viralnya kabar ini juga menunjukkan bahwa tayangan anak-anak berkualitas masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Doraemon tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kehidupan secara ringan dan mudah dipahami. Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap konten digital yang kurang ramah anak, absennya serial seperti ini dari televisi justru memunculkan pertanyaan tentang arah penyiaran ramah keluarga ke depan.
Pada akhirnya, berhentinya penayangan Doraemon di RCTI bukan sekadar soal pergantian program. Ia adalah penanda zaman, tentang bagaimana media berubah dan bagaimana generasi berganti. Namun kenangan yang ditinggalkan Doraemon akan tetap hidup, tersimpan dalam ingatan mereka yang pernah belajar tentang arti persahabatan, keberanian, dan harapan dari sebuah kantong ajaib berwarna biru.
Mungkin Doraemon tak lagi menyapa dari layar televisi setiap Minggu pagi, tetapi kisahnya telah terlanjur menjadi bagian dari perjalanan banyak orang. Dan seperti pesan yang kerap tersirat dalam setiap episodenya, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari cerita baru yang akan terus dikenang.